Diabetes

Diabetes dan Impotensi

Diabetes dan Impotensi- Impotensi adalah keti­dakmam­puan penis untuk ereksi/tegang. Bisa juga di­artikan sebagai penis yang tidak mampu mempertahan­kan ereksi ketika berseg­ga­ma.

Nama lain impotensi ada­lah dis­fung­si ereksi. Lebih dari 50 % pen­de­rita diabetes atau diabetesi pria meng­alami impotensi, tetapi hanya sedikit yang mencari peng­obatan dan berkon­sultasi ke dokter.

Ejakulasi dini merupakan gejala yang dialami mereka yang berumur. Semangat ada, tepi apa daya, fisik ku­rang bertenaga. Keadaan se­perti ini bisa timbul pada ting­kat ringan sampai berat, mampu bertahan sebentar, hanya beberapa kali gesekan, atau begitu menempel lang­sung timbul ejakulasi (me­nge­luarkan sperma).



Orang non diabetes pun bisa meng­alami gang­guan ini. Ada penelitian yang me­nye­but­kan bahwa 30 % pria ternyata pernah mengalami ejakulasi dini.

Penyebab Impotensi

Penyebab impotesi ada dua, yakni faktor fisik dan faktor psikologis. Ke­banyak­an impotensi pada pria diabetes/diabetesi disebabkan factor fisik, karena kadar gu­la darahnya tinggi atau udah lama mengidap diabetes. Pe­nyem­­pitan pembuluh da­rah karena kom­plikasi kronis diabetes meng­ganggu aliran darah dari pembuluh besar ke penis.

Jika saraf juga mengalami keru­sa­kan sehingga tidak dapat menghantar impuls pengisian darah ke dalam pem­buluh darah kecil di da­lam penis, maka penis lemas dan gagal ereksi.

Gangguan ereksi penis pada diabe­te­si bisa dipenga­ruhi beberapa faktor se­perti baik buruknya Kontrol Gula Darah (KGD), lamanya diabetes, ba­gai­mana hubungan dengan pa­sangan/istri, peng­gunaan alkohol atau obat, ada­nya facktor psikologis, faktor psi­ko­logis, yang meli­puti rasa cemas, stress, takut, atau depresi, sering di­ala­mi oleh seseorang, sel tubuh se­hingga terjadilah impotensi.

Sedangkan facktor psiko­logis lain dapat berupa : Kurang komunikasi de­ngan pasangan, bertengkar dan berde­bat masalah uang, anak, peker­jaan, takut impoten, takut hamil, pendidikan seks tidak memadai dan lama tidak berhubungan seks.

Kalau seorang diabetes masih bisa ereksi pada saat tidur, saat maturbasi, saat ada rangsangan dari luar, saat mim­pi erotis, maupun saat bangun pagi dan kandung kemih sedang pe­nuh, maka impotensi yang dikeluhkan karena factor psikologis.

Pengobatan Impotensi

Ada beberapa cara meng­obati im­potensi. Ada yang membuat penis dapat ereksi kembali, ada pula yang mem­bantu agar berhasil me­lakukan hubungan seks, te­ta­pi impotensi tidak diper­baiki.

Kunci utama peng­obat­an impotensi adalah kontrol diabetes yang baik. Usaha­kan gula darah tetap ter­ken­­dali dengan baik melalui diet yang be­nar.

Juga diperlukan olahraga tera­tur, ditambah obat yang mem­perbaiki alir­an darah dan kerja saraf, istri, ke­luarga, dan rekan kerja se­ring perlu dili­batkan untuk memberikan duku­ngan agar penyebab psikologis bisa dikurangi. Obat kuat atau jamu yang be­redar di­pa­saran, de­ngan tujuan un­tuk me­rang­sang keingi­nan seksual, sa­ma sekali tidak berguna.

Ka­rena ke­ingi­nan ber­tam­bah, se­dang­kan pem­buluh darah dan saraf rusak atau ke­mam­­puan tetap buruk, mem­buat para diabetes se­ma­kin men­derita.

Tentang Ejakulasi Dini

Dalam otak terdapat hormone serotonin yang bisa menghambat eja­ku­lasi. Jika kadar serotonin kurang atau tidak cukup, terjadilah ejaku­lasi yang terlalu cepat.

Gang­guan sistem saraf juga me­nye­babkan tubuh tidak mam­pu mengen­dalikan mekanis­me ejaku­lasi, se­hingga ter­ja­dilah impotensi dan eja­kulasi dini.

Penyebab lain yang le­bih sering adalah faktor psi­kologis. Stres, keca­pekan, ingin berhubungan seks ce­pat se­lesai, takut, atau pera­saan bersalah dapat memicu ejakulasi dini.

Mengo­bati eja­kulasi dini bisa de­ngan obat luar yang dioles agar rang­sangan pada pe­nis berkurang, atau obat yang dimi­num un­tuk mengatur serotonin.

Fak­tor fisik yang baik, olah raga yang tera­tur, cara diet yang benar, isti­rahat yang cukup, serta psikologis sta­bil lebih tepat untuk mengatasi problem ejaku­lasi dini ini.

Referensi: (Drs.H.Syafruddin Ritonga,MAP. Penulis adalah seorang diabetesi dan staf pengajar Universitas Medan Area)

Join The Discussion