Month: July 2020

Ejakulasi dini merupakan suatu kondisi saat seorang pria mengalami ejakulasi atau mengeluarkan sperma yang terlalu cepat saat melakukan hubungan seksual. Kondisi ini bisa mengakibatkan tidak tercapainya titik klimaks atau kepuasan seksual pada pasangan atau pada pria itu sendiri.

Cara mengobati ejakulasi dini harus segera diterapkan agar kondisinya bisa normal kembali. Dalam mengatasinya, pemeriksaan secara medis sangat membantu dan bisa memberikan metode penanganan yang tepat berdasarkan kondisi penyebabnya.

Penyebab Ejakulasi Dini

Terdapat berbagai penyebab yang memicu dialaminya ejakulasi dini, di mana seorang pria lebih cepat mengalami ejakulasi. Hal ini akan menyebabkan rasa malu dan frustasi karena ejakulasi sudah terjadi di awal masa hubungan intim. Penyebab kondisi ini memang beragam dan terbagi dalam beberapa faktor yaitu faktor psikologis, permasalahan dengan pasangan, dan disfungsi ereksi.

Dari segi faktor psikologis, seseorang bisa mengalami ejakulasi di awal karena tengah depresi, merasa bersalah saat berhubungan seksual, mengalami pengalaman seksual yang dini, mempunyai gambaran diri yang buruk, dan pernah mengalami kekerasan seksual di masa lalu. Penderitanya juga pada umumnya mengalami persoalan kecemasan tentang aspek seksualnya, seperti performa seksual dan sebagainya. Terkadang, kecemasan mengalami ejakulasi dini justru dapat memicu ejakulasi dini. Kondisi ini bisa dikonsultasikan untuk mendapatkan cara mengobati ejakulasi dini yang tepat.

Terkadang, persoalan pada hubungan dengan pasangan bisa menjadi penyebab ejakulasi dini, terutama apabila sebelumnya jarang atau tidak pernah mengalami ejakulasi dini dengan pasangan. Mengenai penyebab terakhir yaitu disfungsi ereksi, penderitanya dapat merasa cemas dalam mencapai atau menjaga ereksi saat berhubungan intim. Oleh karena itu, penderita bisa terburu-buru melakukan ejakulasi. Hal tersebut bisa menjadi pola yang mengakibatkan ejakulasi dini.

Proses Diagnosis

Mengenal ciri-ciri ejakulasi dini berupa tidak mampu menahan ejakulasi dalam waktu kurang dari satu menit setelah penetrasi tentu bisa menjadi salah satu data dalam pemeriksaan diagnosis. Setelah memang mengalami tanda ejakulasi awal di atas, sebaiknya tetap dilakukan pemeriksaan medis ke dokter, termasuk melakukan proses diagnosis untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Diagnosis yang dilakukan terhadap masalah ejakulasi awal ditentukan oleh gejala yang dialami. Hasil diagnosis ini juga erat kaitannya dengan cara mengobati ejakulasi dini yang akan dijalankan penderitanya. Oleh karena itu, dalam wawancara medis yang dilakukan dokter, diperlukan untuk mengajukan pertanyaan agar memperoleh gambaran tentang gangguan ejakulasi dan kaitannya dengan kehidupan seksual Anda.

Pertanyaan yang diajukan oleh dokter pada umumnya meliputi sudah berapa lama mengalami masalah ejakulasi, seberapa sering mengalami masalah ejakulasi, dan seberapa besar rangsangan seksual yang diperlukan untuk menyebabkan ejakulasi. Pertanyaan berikutnya adalah tentang frekuensi dialaminya masalah ejakulasi apakah hanya terjadi sesekali atau setiap kali melakukan hubungan seksual. Ditanyakan juga apakah mampu menahan ejakulasi sampai akhir penetrasi atau tidak serta apakah pasangan merasa tidak nyaman atau frustasi. Pertanyaan mengenai dampak ejakulasi dini terhadap aktivitas seksual dan kualitas hidup juga tak terlupakan.

Dikutip dari hellosehat.com, jika riwayat seksual penderitanya dinilai belum cukup untuk menggambarkan faktor penyebabnya, maka dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik umum. Pemeriksaan tersebut mencakup pemeriksaan saraf, prostat, atau tes urin untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi. Dokter juga merekomendasikan pemeriksaan darah atau pemeriksaan lainnya untuk mengetahui tingkatan hormon dan aspek lain yang berkaitan dengan itu.

Cara Mengobati Ejakulasi Dini

Sebagian besar kasus orgasme dini ini disebabkan karena faktor psikologis dan bisa ditangani dengan baik. Berbagai metode untuk mengatasi persoalan ejakulasi awal adalah anestesi topikal, obat yang dikonsumsi langsung, terapi psikologis dan perilaku, serta konseling.

Cara mengobati ejakulasi dini yang bisa dilakukan di rumah adalah mengubah kebiasaan hidup jadi lebih sehat. pertama, pertahankan gaya hidup sehat serta meningkatkan aktivitas olahraga. Hindarilah kebiasaan merokok serta mengonsumsi alkohol. Temukan juga cara untuk mengelola stres yang dialami dan perbaiki hubungan dengan pasangan. Pemakaian kondom juga bisa mengurangi stimulasi penis dan membantu hubungan seksual agar bisa bertahan lebih lama.

Menarik napas dalam untuk mencegah ejakulasi yang refleks sebelum orgasme terjadi juga diperlukan. Memberi jeda ketika berhubungan seksual dengan mengalihkan pikiran ke hal lain sesaat juga sangat membantu mengurangi rangsangan seksual yang memicu ejakulasi.

 

Sumber Artikel:

hellosehat.com, www.sehatq.com, www.alodokter.com

 

Sumber Gambar:

www.halodoc.com, doktersehat.com

 

Pada umumnya, air mani keluar dari penis saat pria mengalami ejakulasi normal. Berbeda halnya dengan kasus ejakulasi retrograde ini. Pada kasus ini, air mani kembali ke kandung kemih, sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah air mani. Oleh karena itu, kondisi ini juga sering disebut dengan istilah ejakulasi kering atau orgasme kering.

Penyebab Ejakulasi Retrograde

Berbagai hal yang bisa memicu terjadinya kondisi ini memang perlu diketahui agar bisa berusaha untuk mengatasinya. Penyebab ejakulasi retrograde memang terdiri dari beberapa hal. Faktor penyebabnya yang pertama adalah diabetes yang bisa merusak organ dan saraf, termasuk bagian otot kandung kemih yang berpengaruh pada produksi air mani. Faktor penyebabnya yang kedua adalah adanya kerusakan pada sistem saraf yang terjadi di otot kandung kemih.

Tindakan pembedahan pada beberapa bagian, di antaranya prostat, kandung kemih, testikel, kolon, rektum, dan tulang belakang bagian bawah, bisa menyebabkan ejakulasi retrograde ini. Beberapa obat yang bisa menjadi penyebab ejakulasi retrograde adalah obat pembesaran prostat, obat antidepresan, dan obat anti-psikotik.

Metode Diagnosis dan Pengobatan

Mengenali ciri-ciri ejakulasi kering juga sangat membantu mengenali kondisi tubuh agar segera dapat memeriksakan diri ke dokter. Dalam hal ini, terdapat metode diagnosis yang harus dilakukan pada tahap awal pemeriksaan setelah Anda menyadari gejala ejakulasi kering ini. Dokter akan mengamati riwayat kesehatan pasien dan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi dan penyebab gejala secara pasti.

Sampel urin akan dipakai sebagai bahan uji untuk melakukan diagnosis apakah Anda benar-benar mengalami ejakulasi retrograde atau tidak. Sebelum sampel urin diberikan, Anda disuruh untuk orgasme dengan teknik masturbasi dan barulah mengambil sampel urinnya.

Dikutip dari asmaraku.com, jika terdapat sperma dalam jumlah besar di dalam urin, itu artinya Anda mengalami ejakulasi retrograde dan dianjurkan segera melakukan prosedur mengatasi ejakulasi retrograde. Apabila sperma tidak terlihat, bisa disimpulkan bahwa kurangnya ejakulasi mungkin disebabkan oleh persoalan kelenjar yang memproduksi air mani. Anda harus melakukan tes lebih lanjut guna mengatasi hal ini.

Setelah dipastikan mengalami ejakulasi kering, dokter akan memberikan metode pengobatan sesuai penyebab ejakulasi retrograde yang dialami pasien. Meskipun demikian, beberapa orang tidak mengobati kondisi ini dengan alasan bahwa kondisi ini tidak memengaruhi hubungan seksual. Akan tetapi, beda halnya dengan sebagian orang yang masih ingin mempunyai keturunan dan ingin memiliki proses di dalam tubuh yang normal.

Untuk mengatasinya, metode pengobatan dilakukan dengan mengatasi penyebabnya. Jika ejakulasi retrograde disebabkan karena pemakaian obat-obatan, maka pengobatannya bisa dilakukan dengan berhenti mengonsumsi obat yang bersangkutan. Akan tetapi, jangan berhenti dalam mengonsumsi obat yang diresepkan dokter sampai Anda berkonsultasi lagi dengan dokter. Beberapa obat yang diberikan adalah yang berkhasiat membantu menjaga kekuatan otot leher kandung kemih agar tetap berkontraksi saat ejakulasi.

Pada pasien yang berencana mempunyai keturunan, namun pengobatan dengan obat-obatan di atas belum membantu, maka pasien bisa melakukan fertilisasi in vitro atau yang dikenal dengan istilah bayi tabung. Dokter akan melakukan serangkaian prosedur pengambilan sperma untuk dimasukkan ke dalam proses inseminasi buatan atau fertilisasi in vitro.

Upaya Pencegahan Ejakulasi Retrograde

Terkait dengan pencegahannya, tidak semua kondisi ejakulasi retrograde bisa dicegah. Pria yang memerlukan perawatan pembesaran prostat juga harus mempertimbangkan operasi yang kurang invasif, seperti halnya ablasi jarum transurethral (TUNA) prostat atau thermotherapy gelombang transurethral (TUMT). Operasi ini cenderung mengakibatkan kerusakan otot dan saraf.

Tindakan untuk mengontrol kondisi medis yang berakibat pada kerusakan saraf juga sangat efektif mencegah efek dari berbagai penyebab ejakulasi retrograde. Pria yang menderita diabetes harus mengonsumsi obat yang diresepkan dokter dan harus mulai menerapkan perubahan gaya hidup sehat, sesuai rekomendasi dokter.

 

Sumber Artikel:

www.asmaraku.com
doktersehat.com
www.honestdocs.id

Sumber Gambar:

www.detiksumsel.com
www.alodokter.com